Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan DPP
Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) meminta masyarakat untuk tidak
terprovokasi aksi terorisme yang mengatasnamakan agama dengan alasan
membela kasus kalangan Muslim tertentu.
Ketua MUI Slamet Effendi Yusuf mengatakan
apapun tindakan kekerasan yang memakan korban jiwa tidak dibenarkan
atas nama agama dan negara. Oleh karena itu, MUI menilai apa yang
dilakukan para pelaku teror dengan dalih membela kaum Muslim di negara
lain sudah melanggar aturan yang ada.
“Kami menyesalkan apa yang telah
dilakukan para pelaku teror ini, apalagi korbannya juga umat Muslim itu
sendiri. Masalah umat Islam Rohingya yang menjadi alasan mereka tentunya
harus bisa dipisahkan karena masalah itu sudah ada yang menangani
bahkan Indonesia telah mengurus khusus Bapak Jusuf Kalla untuk
menyelesaikannya. Saya kira itu sudah cukup,” katanya disela-sela acara
siraturahmi dengan seluruh umat Islam di DKI di kantor DPP LDII Jakarta,
Selasa malam.
Menurut Slamet Effendi, kedatangan Ketua
PMI dalam menyelesaikan masalah tersebut sudah menunjuk kan etikad baik
pemerintah indonesia dalam ikut serta mempererat kerukunan antarumat
beragama di dunia termasuk di Myanmar.
“Kedatangan Pak Kalla di sana ini kita
harapkan memberikan pembelajaran bagi warga Myanmar untuk menghargai
pentingnya kerukunan antar umat beragama seperti di Indonesia,” katanya.
Sementara itu ketua DPP LDII Bidang
Da’wah Chriswanto Santoso mengajak seluruh ulama di Indonesia untuk
memberikan pemahaman agama yang lebih medalam kepada para santrinya agar
kasus terorisme dapat ditekan dan dihilangkan.
“Kami bersama MUI akan terus menjalin
komunkasi kepada seluruh Ulama agar dapat terus mengedepankan dakwah
yang tidak mengedepankan kekerasan,” katanya.
Chriswanto menjelaskan meski demikian
aparat keamanan diminta untuk kerja lebih ekstra dalam menditeksi segala
bentuk gerakan terorisme secara dini agar tidak ada lagi masyarakat
yang menjadi korban.
“Bayangkan jika yang menjadi korban itu
menjadi tulang punggung keluarga mereka, apalagi mereka juga seorang
muslim. Saya kira koordinasi antar-intelejen, dan peran serta masyarakat
diperlukan guna mengatasi aksi ini,” jelasnya.
Chriswanto menambahkan, bentuk komunikasi
yang efektif bisa dilakukan aparat keamanan dalam mencegah terorisme
adalah dengan aktif memberikan pengertian dan pertemuan dengan
tokoh-tokoh agama serta tokoh adat, tanpa harus menakut-nakuti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar